Map Coklat
By Aliif Arief · 2 minutes
Sepertiga malam di salah satu hari pada pertengahan Ramadhan 2021 masih menyisakan kantuk yang berat. Di sebuah rumah di pinggiran kota Bekasi, seorang anak laki-laki menata tas besarnya di bawah temaram lampu ruang tamu. Buku-buku tebal persiapan ujian masuk PTN, alat tulis, dan dokumen penting ia susun dengan rapi.
“Sudah lengkap semua kan, Kak?” suara ibunya terdengar pelan.
“Sudah, Mah,” jawabnya singkat sambil tersenyum.
Tak lama, mobil melaju membelah sunyi dini hari menuju Bogor. Tujuannya Institut Pertanian Bogor. Meski begitu, di kepalanya hanya ada satu nama kota yang terus berulang, Yogyakarta.
Gerbang IPB masih terkunci saat mereka tiba. Ayahnya memutar kemudi, mencari masjid terdekat untuk sahur. Di dalam mobil yang sempit, mereka makan dalam diam. Setelah suapan terakhir, anak laki-laki itu mengeluarkan map coklat dari tasnya. Ia menyelipkannya ke kantong jok depan, terpisah dari buku-buku lain yang masih tertinggal di dalam tas besar.
Adzan Subuh berkumandang. Mereka shalat. anak laki-laki itu tersujud lama dalam benaknya “Tuhan tolong Universitas Gadjah Mada”.
Saat kembali ke parkiran, bunyi kaca terinjak memecah langkah. Jendela mobil hancur. Tas besar lenyap. Ponsel, dan beberapa barang berharga hilang. Dua jam sebelum ujian.
Ayahnya terdiam.
Anak laki-laki itu justru menoleh ke kantong jok dan tersenyum.
Map coklat itu masih di sana.
Ia berangkat ke ruang ujian tanpa buku, tanpa catatan, tanpa rencana cadangan. Kepalanya terasa ringan. Soal demi soal ia kerjakan dalam keheningan yang aneh, seolah kejadian subuh tadi tidak perlu diperdebatkan.
Setelah hari itu, ia memang tak pernah lagi menyentuh buku-buku persiapan ujian masuk PTN.
----
✍️ at 19:00 on December 27, 2021🆕 at 09:37 on December 28, 2025